Logo Siaga Peduli

Allah Melihat Ketulusan Hambanya, Bukan Pekerjaannya

Oleh : Ahmad Dani Af Rizal | Minggu, 15 Desember 2024 | EDUKASI
Allah Melihat Ketulusan Hambanya, Bukan Pekerjaannya

Allah Melihat Ketulusan Hambanya, Bukan Pekerjaannya

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam penilaian duniawi. Sebuah pekerjaan atau jabatan sering dijadikan tolok ukur kesuksesan atau penghargaan manusia terhadap manusia lainnya. Namun, bagi Allah ï·», yang paling penting bukanlah jenis pekerjaan yang dilakukan, melainkan niat dan ketulusan hati di baliknya.

Allah tidak memandang besar atau kecilnya suatu amal, tetapi pada keikhlasan dan kualitasnya. Sebagaimana sabda Rasulullah ï·º:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Ketulusan: Inti dari Setiap Amal

  1. Amal Ditentukan oleh Niat
    Dalam Islam, niat adalah dasar dari setiap amal. Rasulullah ï·º bersabda:

    “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)
    Jika seseorang bekerja, bersedekah, atau beribadah dengan niat mencari ridha Allah, maka amalnya akan bernilai di sisi-Nya, meskipun pekerjaan itu tampak kecil di mata manusia.

  2. Allah Melihat Hati, Bukan Penampilan
    Dalam kehidupan, ada orang-orang yang melakukan pekerjaan sederhana seperti tukang kebun, pedagang kecil, atau pekerja kasar, namun jika mereka bekerja dengan ikhlas dan jujur demi menghidupi keluarga atau membantu orang lain, Allah menilai pekerjaan mereka dengan penuh kemuliaan.

    Sebaliknya, pekerjaan yang terlihat besar atau hebat di mata manusia, seperti menjadi pemimpin atau pengusaha, tidak akan berarti apa-apa jika dilakukan dengan niat yang salah atau tanpa keikhlasan.

Ketulusan dalam Pekerjaan Sehari-hari

  1. Pekerjaan Kecil yang Bernilai Besar
    Ada sebuah hadits tentang seorang pria yang memberi minum seekor anjing yang kehausan. Rasulullah ï·º bersabda bahwa pria tersebut diampuni dosanya dan masuk surga karena ketulusannya dalam membantu makhluk Allah yang sedang membutuhkan.

    “Pada setiap yang bernyawa ada pahala.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. Tidak Ada Pekerjaan yang Sia-sia
    Setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang benar akan dicatat sebagai amal saleh. Bahkan seorang ibu rumah tangga yang mencuci pakaian anak-anaknya atau memasak untuk keluarganya pun mendapatkan pahala jika dilakukan dengan ikhlas.

  3. Jangan Meremehkan Kebaikan
    Rasulullah ï·º bersabda:

    “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun hanya sekadar engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.”
    (HR. Muslim)

    Tersenyum kepada orang lain, membantu seseorang menyeberang jalan, atau memberi nasihat yang baik bisa menjadi amal besar di sisi Allah jika dilakukan dengan hati yang tulus.

Mengukur Keikhlasan Diri

  1. Tanya pada Diri Sendiri: Untuk Siapa Aku Melakukan Ini?
    Apakah pekerjaan atau amal kita ditujukan untuk mencari pujian manusia, atau benar-benar untuk mendapatkan ridha Allah? Jika niatnya sudah lurus, maka amal itu akan bernilai di sisi Allah.

  2. Tidak Mengharapkan Balasan Duniawi
    Orang yang ikhlas tidak mencari balasan dari manusia. Mereka hanya berharap pahala dari Allah. Firman Allah:

    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”
    (QS. Al-Insan: 9)


Ketulusan yang Membawa Keberkahan

Ketulusan adalah kunci keberkahan hidup. Dengan ikhlas, pekerjaan yang sederhana dapat menjadi ladang pahala yang besar di sisi Allah. Sebaliknya, tanpa ketulusan, amal sebesar apa pun tidak akan diterima oleh Allah.

Mari kita luruskan niat dalam setiap pekerjaan dan amal kita. Janganlah memandang rendah pekerjaan orang lain, karena Allah ï·» adalah satu-satunya yang berhak menilai. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang tulus, yang bekerja, beramal, dan beribadah hanya demi mencari ridha-Nya.

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”
(QS. Asy-Syura: 20)

Yukk Bagikan Artikel inii